Tujuan Komunikasi Interpersonal, Ciri-Ciri Efektivitas Komunikasi Antarpribadi
Tujuan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, adapun tujuan dilakukannya komunikasi interpersonal adalah (Hardjana, 2007:87):
- Menyampaikan informasi
- Berbagai pengalaman
- Mengembangkan simpati
- Melakukan kerja sama
- Mengembangkan motivasi
- Mengungkapkan isi hati dan ide
Ciri-Ciri Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Berkaitan dengan efektivitas Komunikasi Antarpribadi, Devito (1997: 259) menyatakan efektivitas komunikasi interpersonal (antarpribadi) mempunyai lima ciri, yaitu:
1. Keterbukaan (Openess)
Memiliki pengertian bahwa dalam komunikasi antarpribadi yang efektif, individu harus terbuka pada pasangan yang di ajak berinteraksi, kesediaan untuk membuka diri dan memberikan informasi, lalu kesediaan untuk mengakui perasaan dan pikiran yang dimiliki, dan juga mempertanggung jawabkannya. Agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif dan kerja sama bisa ditingkatkan, maka kita perlu bersikap terbuka.
Menurut Devito (2013: 99), untuk mempunyai sikap keterbukaan, seseorang harus:
- Mengungkapan diri ketika waktu tepat dan sadar tentang pengungkapan diri kita, mengingat ada keuntungan dan bahaya dari bentuk komunikasi ini
-
Mendengarkan dengan seksama dan merespon mereka yang berinteraksi dengan
kita secara spontan dan dengan kejujuran, tetapi juga dengan kesadaran apa
yang kita katakan dan apa yang mungkin berakibat dari pesan kita
- Mengkomunikasikan keinginan kita untuk mendengarkan orang lain berbicara. Biarkan orang lain tahu bahwa kita ingin mendengar perasaan dan pikirannya
-
Bertanggung jawab atas apa yang kita katakan. Gunakan I-Messages (pesan yang
berorientasi pada "Saya/Aku") daripada You-Messages (pesan yang berorientasi
pada "Kamu/Anda"). Gantikan "Kamu membuatku merasa bodoh ketika kamu tidak meminta pendapatku" dengan "Aku merasa bodoh ketika kamu bertanya pada orang lain tentang apa yang
mereka pikirkan tetapi tidak padaku". Dengan menggunakan I-Messages, membuat fakta menjadi jelas yang perasaan
kita hasilkan dari interaksi antara apa yang di luar kita (contohnya, apa
yang orang lain katakan) dan di dalam kita (konsepsi, tingkah laku,
prasangka).
2. Empati (Empathy)
Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada posisi atau peranan orang lain. Dalam arti bahwa seseorang secara emosional maupun intelektual mampu memahami apa yang dirasakan dan dialami orang lain.
Menurut Devito (2013: 248), untuk mempunyai sikap empati, seseorang harus:
- Membuat lawan bicara paham jika kita mencoba untuk memahami, bukan untuk mengevaluasi, menghakimi, atau mengkritik.
- Fokus: pertahankan kontak mata, memperhatikan postur diri, dan kedekatan fisik. Ekspresikan keterlibatan melalui ekpresi wajah dan gerak tubuh.
- Menunjukkan komitmen kepada lawan bicara bahwa kita benar-benar ingin memahami apa yang dirasakan lawan bicara
- Jika dirasa tepat, gunakan pengungkapan diri kita sendiri untuk mengkomunikasikan bahwa kita mengerti apa yang dirasakan lawan bicara
-
Menanyakan "mixed message" yang diberikan oleh lawan bicara sehingga dapat
mendorong komunikasi yang lebih terbuka dan jujur.
3. Dukungan (Supportiveness)
Komunikasi interpersonal akan efektif apabila dalam diri seseorang ada perilaku supportiveness. Maksudnya satu dengan yang lainnya saling memberikan dukungan terhadap pesan yang disampaikan. Sikap mendukung adalah sikap yang mengurangi sikap defensive dalam berkomunikasi yang dapat terjadi karena faktor-faktor personal.
Menurut Devito (2013: 274), untuk mempunyai sikap mendukung, seseorang harus:
- Menghindari sikap menyalahkan lawan bicara
-
Menghindari cara mengevaluasi menggunakan kata-kata yang
negatifc.Menghindari sikap mengguruid.Tunjukkan keinginan untuk mendengarkan
dengan pikiran terbuka dan kesiapan untuk merubah pola pikir dan cara untuk
melakukan sesuatue.Menanyakan opini dari orang lain, dan tunjukkan bahwa
opini dari lawan bicara adalah hal yang penting.
4. Rasa positif (Positiveness)
Memiliki perilaku positif yakni berfikir secara positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Menurut Devito (1997: 260), untuk mempunyai sikap positif, seseorang harus:
- Menyatakan sikap positif
- Berpikiran positif terhadap diri sendiri dan orang lain
- Bereaksi secara positif terhadap apa yang terjadi
5. Kesetaraan (Equality)
Kesetaraan yang dimaksudkan adalah perilaku menghindari tingkah laku superioritas dalam komunikasi interpersonal. Menurut Devito (2013: 299), untuk mempunyai sikap kesetaraan, seseorang harus:
- Menghindari penggunaan kata "harus" dan sikap memerintah
- Jika membutuhkan sesuatu, memintalah dengan baik bukan dengan memaksa
- Tidak menginterupsi lawan bicara
- Memahami kontribusi orang lain sebelum menunjukkan kontribusi pribadi
-
Memahami tiap kebudayaan memiliki sikapnya masing-masing mengenai
kesetaraan